Tradisi yang perlu dilestarikan

Mei 4, 2008

Solok Selatan kabupaten baru di selatan Sumatera Barat sangat kaya dengan potensi Alam sera budaya yang dapat diangkat sebagai asset pariwisata. Pada 7kecamatan yang ada masing – masing kecamatan memiliki ciri khas tradisi dan budaya serta alam yang dapat dikembangkan lagi.

misalnya di Kecamatan baru Pauh Duo, memiliki sumber air panas alam yang telah mulai ditata kembali. memiliki sumber air bersih juga yang sangat mungkin sebagai sumber air kemasan. tradisi dimasyarakat masih sangat kental dengan nuansa  Islami.

Salah satu tradisi di Pauh Duo yaitu acara memperingati hari Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, masing-masing TPA, Surau dan tempat-tempat belajar mengaji anak-anak melaksanakan acara “Ma arak bungo Lamang”

Maarak bungo lamang adalah tradisi menghias Lamang (makanan dari ketan yang ditaruh dalam bambu). lamang tersebut diberi pernik-pernik dan jumbai-jumbai yang diujungnya di lemkan uang kertas  seribuan, lima ribuan dst, tergantung berapa niat untuk memberinya.

lamang yang sudah dihias dan diberi uang tadi diarak anak-anak surau itu  sepanjang jalan yang diiringi musik tradisionil bernuansakan Islami ketempat tujuan acara (biasanya Mesjid)

sampai semua peserta dari berbagai kelompok anak ngaji itu diMesjid tujuan, panitia memunguti uang yang ada dimasing-masing Lamang yang diarak tadi. jumlah uang sangat tergantung pada jumlah peserta yang membawa bungo Lamang dan besarnya uang pecahan yang di pasang di ujung Bungo lamang

Di Mesjid semua berkumpul untuk mendengarkan ceramah agama, selanjutnya Lamang tadi di sajikan untuk dimakan bersama.


Pendidikan di Kampungku

Mei 4, 2008

kualitas Pendidikan Solok Selatan

Solok Selatan merupakan Kabupaten yang dikategorikan kualitas pendidikan rendah di propinsi Sumatera Barat dari hasil uji coba Ujian Nasional BSNP baru-baru ini. Dengan hasil tingkat kelulusan di jenjang SMA 0% dan SMK dari 4 SMK di daerah ini yang lulus cuma 5 orang dari SMKN 1 Solok Selatan saja. Menyedihkan bukan? Sehingga menjadi suatu trauma besar dikalangan stackholder ditingkat Kabupaten.

Sebenarnya apa yang terjadi dengan pendidikan didaerah kita ? apakah pendidikan dari masa ke masa tidak tumbuh dan berkembang layaknya bagai suatu tanaman????? Seharusnya begitu, pendidikan tumbuh, berkembang, bercabang, berbunga mekar dan berbuah anak bangsa yang berkualitas, beriman dan bertaqwa.

Kualitas pendidikan bukanlah bertumpu kepada kapasitas dan kemampuan guru – guru saja, seperti yang sering kita dengar. Proses pendidikan yang melahirkan anak bangsa merupakan juga suatu proses produksi pada barang dan jasa. Kualitas produk bukan ditentukan oleh tenaga kerja (buruh) saja, tetapi meliputi bahan baku, bahan penolong, system, mekanisme, kebijakan dan lainnya.

Menurut pandangan kami pendidikan di Solok Selatan dipengaruhi oleh beberapa factor yang sangat dominan :

1. Faktor kemampuan personal guru yang relative rendah

Rendahnya kemampuan pelayanan guru bukan disebabkan saja oleh LPTK penyelenggara pendidikan guru saja, guru kurang memperoleh kesempatan meningkatkan kemampuan dan pengetahuannya tanpa adanya pelatihan, pengarahan dari lembaga penyelenggara pendidikan dan pengambil keputusan di tingkat Kabupaten. Pengayoman yang maksimal bagi guru-guru baru kurang dilaksanakan terutama di guru SD yang direkrut masih banyak dari tenaga honorer dan belum memiliki keterampilan dasar mengajar. Sehingga hirarki / penerapan konsep-konsep pembelajaran yang seharusnya di pendidikan usia dini ini dilaksankan tidak tepat. Ini akan berlanjut ketingkat SLTP dan SLTA.

 

2. Pemahaman paradigma pendidikan belum dipahami oleh para kepala sekolah.

Bahwa pelayanan pendidikan itu sangat komplek, pengajaran sangat variatif belum dipahami dan disosialisasikan. Kita masih berpola budaya lama saja. Asal masuk, siswa dan mencatat. Belum kontinyue nya pelaksanaan supervisi kelas kepada guru, kebutuhan pelaksanaan PBM kurang terpenuhi. Pembangunan banyak diarahkan kepada fisik sekolah seperti gerbang yang megah, pagar yang cantik kantor kepala sekolah yang mewah?!

3. Para stackholder ditingkat kabupaten masih kurang optimal, SOTK yang gonta ganti, baru pada tahap perencanaan sesorang pada jabatan startegis pendidikan besok nya diganti lagi dengan orang lain. Sehingga tidak terjadinya suatu proses yang berkelanjutan. Dan tidak bias pula terukur sejauh mana kebijakan yang telah diambil itu punya dampak terhadap perobahan pola pendidikan itu sendiri.

PP  Proses pembangunan fisik, sarana dan prasarana yang melibatkan unsur kependidikan.

Dalam pelaksanaan pembangunan fisik, sarana prasarana melibatkan unsure kependidikan sehingga perhatian mereka sebagian besar tertumpu kepada kegiatan tersebut, sepertinya pelayanan kependidikan sedikit terabaikan.

   Kurangnya jalinan lintas sektoral lini pendidikan (pemda ) dengan lembaga pelaksana Diklat.

Kurang terjalinnya kerja sama dengan lembaga Diklat seperti PPPPTK, yang ada di Medan, Bandung, Jakarta, Yokyakarta Malang dll. Sehingga sangat langka guru dari Solok Selatan yang dipanggil penataran.

      Intervensi pihak lain terhadap pelaksanaan pendidikan, seperti pengadaan bahan ajar, mutasi guru rekrutmen kepala sekolah, pengawas, UPTD. Laksanakanlah secara sangat objektif sehingga kepercayaan guru maupun siswa lebih baik