KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR

Mei 4, 2008

KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR
Keterampilan Bertanya

Guru perlu menguasai keterampilan bertanya karena:

1. guru cenderung mendominasi kelas dengan ceramah,

2. siswa belum terbiasa mengajukan pertanyaan,

3. siswa harus dilibatkan secara mental-intelektual secara maksimal, dan

4. adanya anggapan bahwa pertanyaan hanya berfungsi untuk menguji pemahaman siswa.

Pertanyaan yang baik mempunyai berbagai fungsi antara lain:

1. mendorong siswa untuk berpikir,

   2. meningkatkan keterlibatan siswa,

3. merangsang siswa untuk mengajukan pertanyaan,

4. mendiagnosis kelemahan siswa,

5. memusatkan perhatian siswa pada satu masalah, dan

6. membantu siswa mengungkapkan pendapat dengan bahasa yang baik.

Keterampilan bertanya dasar terdiri atas komponen-komponen:

1. pengajuan pertanyaan secara jelas dan singkat,

2. pemberian acuan,

3. pemusatan,

4. pemindahan giliran,

5. penyebaran,

6. pemberian waktu berpikir, dan

7. pemberian tuntunan.

Keterampilan bertanya lanjut terdiri dari komponen:

1. pengubahan tuntutan kognitif dalam menjawab pertanyaan,

2. pengaturan urutan pertanyaan,

3. penggunaan pertanyaan pelacak, dan

4. peningkatan terjadinya interaksi.

Keterampilan bertanya lanjut terdiri dari komponen:

1. pengubahan tuntutan kognitif dalam menjawab pertanyaan,

2. pengaturan urutan pertanyaan,

3. penggunaan pertanyaan pelacak, dan

4. penigkatan terjadinya interaksi.

Dalam menerapkan keterampilan bertanya dasar dan lanjut, guru perlu memperhatikan prinsip-prinsip berikut:

1. Kehangatan dan keantusiasan.

2. Menghindari kebiasaan mengulang pertanyaan sendiri, menjawab pertanyaan sendiri, mengajukan pertanyaan yang mengundang jawaban serempak, mengulangi jawaban siswa, mengajukan pertanyaan ganda, dan menunjuk siswa sebelum mengajukan pertanyaan

3. Waktu berpikir yang diberikan untuk pertanyaan tingkat lanjut lebih banyak dari yang diberikan untuk pertanyaan tingkat dasar.

4. Susun pertanyaan pokok dan nilai pertanyaan tersebut sesudah selesai mengajar.


Keterampilan Memberi Penguatan

Penguatan adalah respon yang diberikan oleh guru terhadap perilaku siswa yang baik, yang menyebabkan siswa tersebut terdorong untuk mengulangi atau meningkatkan perilaku yang baik tersebut.

Penguatan diberikan dengan tujuan meningkatkan motivasi siswa dalam belajar, mengontrol dan memotivasi perilaku yang negatif, menumbuhkan rasa percaya diri, serta memelihara iklim kelas yang kondusif.

Penguatan dapat dibagi menjadi penguatan verbal dan non-verbal. Penguatan verbal diberikan dalam bentuk kata-kata/kalimat pujian, sentuhan, kegiatan yang menyenangkan, serta benda atau simbol. Penguatan dapat juga diberikan dalam bentuk penguatan tak penuh, jika respon/perilaku siswa tidak sepenuhnya memenuhi harapan.

Dalam memberikan penguatan harus diperhatikan prinsip-prinsip berikut.

1. Kehangatan dan keantusiasan

2. Kebermaknaan

3. Hindari respon negatif

4. Penguatan harus bervariasi

5. Sasaran penguatan harus jelas

6. Penguatan harus diberikan segera setelah perilaku yang diharapkan muncul.

Keterampilan Mengadakan Variasi

Variasi adalah keanekaan yang membuat sesuatu tidak monoton. Variasi di dalam kegiatan pembelajaran dapat menghilangkan kebosanan, meningkatkan minat dan keingintahuan siswa, melayani gaya belajar siswa yang beragam, serta meningkatkan kadar keaktifan siswa.

Komponen keterampilan mengadakan variasi dibagi menjadi 3 kelompok sebagai berikut.

1. Variasi dalam gaya mengajar yang meliputi variasi suara, pemusatan perhatian, kesenyapan, pergantian posisi guru, kontak pandang serta gerakan badan dan mimik.

2. Variasi pola interaksi dan kegiatan.

3. Variasi penggunaan alat bantu pengajaran yang meliputi alat/bahan yang dapat didengar, dilihat, dan dimanipulasi.

Dalam mengadakan variasi, guru perlu mengingat prinsip-prinsip penggunaannya yang meliputi: kesesuaian, kewajaran, kelancaran dan kesinambungan, serta perencanaan bagi alat/bahan yang memerlukan penataan khsusus.

Keterampilan Menjelaskan

Keterampilan menjelaskan sangat penting bagi guru karena sebagian besar percakapan guru yang mempunyai pengaruh terhadap pemahaman siswa adalah berupa penjelasan. Penguasaan keterampilan menjelaskan yang didemonstrasikan guru akan memungkinkan siswa memiliki pemahaman yang mantap tentang masalah yang dijelaskan, serta meningkatnya keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran.

Komponen keterampilan menjelaskan dibagi menjadi 2 kelompok yaitu:

1. Merencanakan materi penjelasan yang mencakup:

1. menganalisis masalah,

2. menentukan hubungan, serta

3. menggunakan hukum, rumus, dan generalisasi yang sesuai.

2. Menyajikan penjelasan, yang mencakup:

1. kejelasan, yaitu keterampilan yang erat kaitannya dengan penggunaan bahasa lisan,

2. penggunaan contoh dan ilustrasi, yang bisa dilakukan dengan pola induktif atau deduktif,

3. pemberian tekanan yang dapat dilakukan dengan berbagai variasi gaya mengajar, dan membuat struktur sajian, dan

4. balikan, yang bertujuan untuk mendapat informasi tentang tingkat pemahaman siswa, baik melalui pertanyaan mapun melalui tugas.

Penjelasan dapat diberikan pada awal, tengah, dan akhir pelajaran, dengan selalu memperhatikan karakteristik siswa yang diberi penjelasan serta materi/ masalah yang dijelaskan.

Sumber : Strategi Belajar Mengajar karya Udin S. Winataputra

 


Pendidikan di Kampungku

Mei 4, 2008

kualitas Pendidikan Solok Selatan

Solok Selatan merupakan Kabupaten yang dikategorikan kualitas pendidikan rendah di propinsi Sumatera Barat dari hasil uji coba Ujian Nasional BSNP baru-baru ini. Dengan hasil tingkat kelulusan di jenjang SMA 0% dan SMK dari 4 SMK di daerah ini yang lulus cuma 5 orang dari SMKN 1 Solok Selatan saja. Menyedihkan bukan? Sehingga menjadi suatu trauma besar dikalangan stackholder ditingkat Kabupaten.

Sebenarnya apa yang terjadi dengan pendidikan didaerah kita ? apakah pendidikan dari masa ke masa tidak tumbuh dan berkembang layaknya bagai suatu tanaman????? Seharusnya begitu, pendidikan tumbuh, berkembang, bercabang, berbunga mekar dan berbuah anak bangsa yang berkualitas, beriman dan bertaqwa.

Kualitas pendidikan bukanlah bertumpu kepada kapasitas dan kemampuan guru – guru saja, seperti yang sering kita dengar. Proses pendidikan yang melahirkan anak bangsa merupakan juga suatu proses produksi pada barang dan jasa. Kualitas produk bukan ditentukan oleh tenaga kerja (buruh) saja, tetapi meliputi bahan baku, bahan penolong, system, mekanisme, kebijakan dan lainnya.

Menurut pandangan kami pendidikan di Solok Selatan dipengaruhi oleh beberapa factor yang sangat dominan :

1. Faktor kemampuan personal guru yang relative rendah

Rendahnya kemampuan pelayanan guru bukan disebabkan saja oleh LPTK penyelenggara pendidikan guru saja, guru kurang memperoleh kesempatan meningkatkan kemampuan dan pengetahuannya tanpa adanya pelatihan, pengarahan dari lembaga penyelenggara pendidikan dan pengambil keputusan di tingkat Kabupaten. Pengayoman yang maksimal bagi guru-guru baru kurang dilaksanakan terutama di guru SD yang direkrut masih banyak dari tenaga honorer dan belum memiliki keterampilan dasar mengajar. Sehingga hirarki / penerapan konsep-konsep pembelajaran yang seharusnya di pendidikan usia dini ini dilaksankan tidak tepat. Ini akan berlanjut ketingkat SLTP dan SLTA.

 

2. Pemahaman paradigma pendidikan belum dipahami oleh para kepala sekolah.

Bahwa pelayanan pendidikan itu sangat komplek, pengajaran sangat variatif belum dipahami dan disosialisasikan. Kita masih berpola budaya lama saja. Asal masuk, siswa dan mencatat. Belum kontinyue nya pelaksanaan supervisi kelas kepada guru, kebutuhan pelaksanaan PBM kurang terpenuhi. Pembangunan banyak diarahkan kepada fisik sekolah seperti gerbang yang megah, pagar yang cantik kantor kepala sekolah yang mewah?!

3. Para stackholder ditingkat kabupaten masih kurang optimal, SOTK yang gonta ganti, baru pada tahap perencanaan sesorang pada jabatan startegis pendidikan besok nya diganti lagi dengan orang lain. Sehingga tidak terjadinya suatu proses yang berkelanjutan. Dan tidak bias pula terukur sejauh mana kebijakan yang telah diambil itu punya dampak terhadap perobahan pola pendidikan itu sendiri.

PP  Proses pembangunan fisik, sarana dan prasarana yang melibatkan unsur kependidikan.

Dalam pelaksanaan pembangunan fisik, sarana prasarana melibatkan unsure kependidikan sehingga perhatian mereka sebagian besar tertumpu kepada kegiatan tersebut, sepertinya pelayanan kependidikan sedikit terabaikan.

   Kurangnya jalinan lintas sektoral lini pendidikan (pemda ) dengan lembaga pelaksana Diklat.

Kurang terjalinnya kerja sama dengan lembaga Diklat seperti PPPPTK, yang ada di Medan, Bandung, Jakarta, Yokyakarta Malang dll. Sehingga sangat langka guru dari Solok Selatan yang dipanggil penataran.

      Intervensi pihak lain terhadap pelaksanaan pendidikan, seperti pengadaan bahan ajar, mutasi guru rekrutmen kepala sekolah, pengawas, UPTD. Laksanakanlah secara sangat objektif sehingga kepercayaan guru maupun siswa lebih baik