Paradigma Pembelajaran

November 18, 2008

Suatu pagi aku sedikit kesal dengan sikap anakku yang tak mau pergi sekolah. Alasannya dia merasa bosan dan tertekan dengan berbagai tugas dan hukuman dari guru. ada secuil rasa takut pada dirinya.

saya menjadi bertanya dalam hati… bagaimanakah situasi pembelajaran era digital dan era global ini disekolah Dasar ?????

Pembelajaran terasa berat dan membosankan pada anak. anak seakan terpaksa belajar dengan berbagai aturan – aturan dan tugas – tugas. terpikirkan kah strategi pembelajaran yang menyenangkan buat anak yang masih usia dibawah 10 tahunan….. sudahkah guru kita menggunakan media pembelajaran yang tepat dan menarik, sudahkah guru kita mengajar dengan pendekatan yang tepat? sudahkah guru kita menciptakan suasana belajar yang menyenangkan???


Bertobatlah

September 5, 2008

Bertaubatlah dengan segera

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ يَوْمَ لا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kalian akan menghapus kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam sorga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan, “ Wahai Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Q.S. At Thahrim : 8)

<!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } –>

Setiap mukmin memerlukan pengampunan dosa dan  penghapusan kesalahan. Tentulah kita tahu bahwa tidak seorangpun terlepas dari dosa dan kesalahan. Abu Tamam mengisyaratkan sebuah hadits Rasulullah SAW yang bersumber dari Anas bin Malik r.a: “Setiap orang di antara kamu sekalian melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah yang bertaubat.” (HR. Ahmad).

Dosa dan kesalahan yang dilakukan manusia akan mengotori hatinya, bagai noda hitam di atas kain putih, tiada dapat dibersihkan kecuali dengan taubat. Rasulullah SAW menjelaskan dalam sabda beliau, “Orang yang meminta ampun dari dosa seperti orang yang tidak berdosa”.(HR. Bukhari). Dan Allah SWT berfirman  “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (Q.S. Al Baqarah: 222)

Syetan telah menjebak manusia dalam seluruh aspek kehidupan, dan menyesatkannya dari jalan Allah Akibatnya manusia terjauh dari jalan keselamatan dan terbukalah dengan lebar pintu-pintu jahannam dengan bujuk rayu syaithan sehingga manusia terjerumus ke dalam jurang kemaksiatan dan dosa. Karena itu semestinyalah manusia segera bertaubat mengharap maghfirah Allah.

Tidak boleh berputus asa di dalam bertaubat menuju kepada keampunan dari Allah, meskipun dosa-dosa sufdah memenuhi kolong langit. Allah adalah Maha Pencipta semua makhluk dan menguji semua amal perbuatan makhluk manusia itu. Siapapun yang menyadari akan banyaknya dosa dan ingin bertaubat menyesali semua kesalahannya itu, maka pintu taubat kepada Allah selalu terbuka dengan syarat, harus menghentikan maksiat dan menyesali perbuatan yang telah terlanjur dia lakukan. Selanjutnya dia mesti berazam atau berniat sungguh-sungguh untuk tidak mengulanginya lagi. Dan manakala dosa yang pernah diperbuat itu ada berhubungan dengan hak manusia maka dianya harus menyelesaikannya dengan meminta maaf atau mengembalikan apa-apa barang yang wajib ia kembalikan.

Keutamaan bagi orang yang segera bertaubat ialah Allah akan menyibukkan para malaikat-Nya untuk memintakan ampunan bagi mereka yang bertaubat dan berdoa kepada Allah agar Dia melindungi mereka dari siksaan neraka jahannam, lalu memasukkan mereka ke surga yang penuh dengan kenikmatan, serta memelihara mereka agar terjauh dari kejahatan dan kesalahan. Para malaikat yang membawa ‘Arsy di langit sibuk memintakan ampunan bagi mereka yang bertaubat. Allah berfirman: “(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arasy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Rabbnya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan), Ya Rabb kami, Rahmat dan Ilmu-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala. Ya Rabb kami, dan masukkanlah mereka ke dalam sorga ‘And yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang shaleh diantara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha bijaksana, dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan … Dan, orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu, maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar. ” (Q.S. Al Mukmin, 40 : 7-9).

Amat banyak ayat-ayat di dalam Al Quran al Karim yang mengabarkan diterimanya taubat orang-orang yang bertaubat manakala dilakukan dengan tulus dan benar. Penerimaan taubat semata adalah karunia, ampunan dan rahmat Allah. Rahmat Allah itu diberikannya kepada hamba-hamba yang beriman. Taubat yang sesungguhnya adalah memperbaiki semua kesalahan dan menyertainya dengan beramal shaleh.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mensifati diri-Nya dengan Asmaul Husana seperti ditemui di dalam Al Qur’an, dengan sebutan at Tawwab (Maha Menerima Taubat). Firman Allah : “ Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang melakukan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera. Maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana. Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang melakukan kejahatan yang hingga apabila datang ajal kepada seseorang, barulah ia mengatakan, “ Sesungguhnya aku bertaubat sekarang ”. Dan tidak pula diterima taubat orang-orang yang mati sedang mereka dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih. ” (Q.S. An Nisaa’ 4 : 17-18).

Jangan menunda-nunda taubat hingga datang hari esok. Maut itu datang secara tiba-tiba. Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam Al Fawaid menuliskan, “Bila kau berpulang ke alam baqa, tidak membawa bekal taqwa, kau lihat orang-orang yang membawanya pada hari perhimpunan. Kau akan menyesal, karena kau tidak seperti mereka. Mereka mempunyai persiapan sedangkan kau tidak memilikinya.” Maka bersegeralah untuk mensucikan diri jiwa kita.

Ramadhan adalah bulan Rahmat. Ramadhan bulan Maghfirah, di mana Allah Subhanahu Wa Ta’ala membuka pintu sorga dan menutup pintu neraka. Sesuai sabda Rasulullah SAW, « siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan iman dan ihtisab, niscaya akan diam[puni dosa-sosanya yang terdahulu ». Maka tidaklah sepantasnya kita melalaikan masa yang amat baik untuk beramal dan memasuki pintu taubat ini.

Wassalamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Buya H. Masoed Abidin.

RantauNet@googlegroups.com


Masa Remaja

September 5, 2008

Problema Masa Remaja

Fase remaja merupakan masa perkembangan individu yang sangat penting. Harold Alberty (1957) mengemukakan bahwa masa remaja merupakan  suatu periode  dalam perkembangan yang dijalani seseorang yang terbentang sejak berakhirnya masa kanak-kanak  sampai dengan awal masa dewasa. Conger berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa yang amat kritis yang mungkin dapat merupakan the best  of time and the worst of time.

Kita menemukan berbagai tafsiran dari para ahli tentang masa remaja :

  1. Freud  menafsirkan masa remaja  sebagai suatu masa mencari hidup seksual yang mempunyai bentuk yang definitif.
  2. Charlotte Buhler menafsirkan masa remaja sebagai masa kebutuhan isi-mengisi.
  3. Spranger memberikan tafsiran masa remaja sebagai masa pertumbuhan dengan perubahan struktur kejiwaan yang fundamental.
  4. Hofmann menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa pembentukan sikap-sikap terhadap segala sesuatu yang dialami individu.
  5. G. Stanley Hall menafsirkan masa remaja sebagai masa storm and drang (badai dan topan).

Para ahli umumnya sepakat bahwa  rentangan masa remaja berlangsung dari usia 11-13 tahun sampai dengan 18-20 th (Abin Syamsuddin, 2003). Pada rentangan periode ini terdapat beberapa indikator perbedaan yang signifikan, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Oleh karena itu, para ahli mengklasikasikan masa remaja ini ke dalam dua bagian yaitu: (1) remaja awal (11-13 th s.d. 14-15 th);  dan (2) remaja akhir (14-16 th s.d.18-20 th).

Masa remaja ditandai dengan adanya berbagai perubahan, baik secara fisik maupun psikis, yang  mungkin saja dapat menimbulkan problema tertentu bagi si remaja. pabila tidak disertai dengan upaya pemahaman diri dan pengarahan diri secara tepat, bahkan dapat menjurus pada berbagai tindakan kenakalan remaja dan kriminal. Problema yang  mungkin timbul pada masa remaja diantaranya :

1 Problema berkaitan dengan perkembangan fisik dan motorik.

Pada masa remaja ditandai dengan adanya pertumbuhan fisik yang cepat. Keadaan fisik pada masa remaja dipandang sebagai suatu hal yang  penting, namun ketika  keadaan fisik tidak sesuai dengan harapannya (ketidaksesuaian antara body image dengan self picture) dapat menimbulkan rasa tidak puas dan kurang percaya diri. Begitu juga, perkembangan fisik yang tidak proporsional. Kematangan organ reproduksi pada masa remaja  membutuhkan upaya  pemuasan dan jika tidak terbimbing oleh norma-norma dapat menjurus pada penyimpangan perilaku seksual.

2 Problema berkaitan dengan perkembangan kognitif dan bahasa.

Pada masa remaja awal ditandai dengan perkembangan kemampuan intelektual yang pesat. Namun ketika, si remaja tidak  mendapatkan kesempatan pengembangan kemampuan intelektual, terutama melalui pendidikan di sekolah, maka boleh jadi potensi intelektualnya tidak akan berkembang optimal. Begitu juga masa remaja, terutama remaja awal merupakan masa terbaik untuk mengenal dan mendalami bahasa asing. Namun dikarenakan keterbatasan kesempatan dan sarana dan pra sarana, menyebabkan si remaja kesulitan untuk menguasai bahasa asing. Tidak bisa dipungkiri, dalam era globalisasi sekarang ini, penguasaan bahasa asing merupakan hal yang penting untuk menunjang kesuksesan hidup dan karier seseorang. Namun dengan adanya hambatan dalam pengembangan ketidakmampuan berbahasa asing tentunya akan sedikit-banyak berpengaruh terhadap kesuksesan hidup dan kariernya. Terhambatnya perkembangan kognitif dan bahasa dapat berakibat pula pada aspek emosional, sosial, dan aspek-aspek  perilaku dan kepribadian lainnya.

3 Problema berkaitan dengan perkembangan perilaku sosial, moralitas dan keagamaan.

Masa remaja disebut pula sebagai masa social hunger (kehausan sosial), yang ditandai dengan adanya keinginan untuk bergaul dan diterima di lingkungan kelompok sebayanya (peer group). Penolakan dari peer group dapat menimbulkan frustrasi dan menjadikan dia sebagai isolated dan merasa rendah diri. Namun sebaliknya apabila remaja dapat diterima oleh rekan sebayanya dan bahkan menjadi idola tentunya ia akan merasa bangga dan memiliki kehormatan dalam dirinya. Problema perilaku sosial remaja tidak hanya terjadi dengan kelompok sebayanya, namun juga dapat terjadi dengan orang tua dan dewasa lainnya, termasuk dengan guru di sekolah. Hal ini disebabkan pada masa remaja, khususnya remaja awal akan ditandai adanya  keinginan yang ambivalen, di satu sisi adanya keinginan untuk melepaskan ketergantungan dan dapat menentukan pilihannya sendiri, namun di sisi lain dia masih membutuhkan orang tua, terutama secara ekonomis. Sejalan dengan pertumbuhan organ reproduksi, hubungan sosial  yang dikembangkan pada masa remaja ditandai pula dengan adanya keinginan untuk menjalin hubungan khusus dengan lain jenis dan  jika  tidak terbimbing dapat menjurus tindakan penyimpangan perilaku sosial dan perilaku seksual. Pada masa remaja juga ditandai dengan adanya keinginan untuk mencoba-coba dan menguji kemapanan norma yang ada,  jika tidak terbimbing, mungkin saja akan berkembang menjadi konflik nilai dalam dirinya maupun dengan lingkungannya.

4. Problema berkaitan dengan perkembangan kepribadian, dan emosional.

Masa remaja disebut juga masa untuk menemukan identitas diri (self identity). Usaha pencarian identitas pun, banyak dilakukan dengan menunjukkan perilaku coba-coba, perilaku imitasi atau identifikasi. Ketika remaja gagal menemukan identitas dirinya, dia akan mengalami krisis identitas atau identity confusion, sehingga mungkin saja akan terbentuk sistem kepribadian yang bukan menggambarkan keadaan diri yang sebenarnya. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosional yang masih labil dan belum terkendali pada masa remaja dapat berdampak pada  kehidupan pribadi maupun sosialnya. Dia menjadi sering merasa tertekan dan bermuram durja atau justru dia menjadi orang yang berperilaku agresif. Pertengkaran dan perkelahian seringkali terjadi akibat dari ketidakstabilan emosinya.

Selain yang telah dipaparkan di atas, tentunya masih banyak problema keremajaan lainnya. Timbulnya problema remaja  dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal.  Agar remaja dapat terhindar dari berbagai kesulitan dan problema kiranya diperlukan kearifan dari semua pihak. Upaya untuk memfasilitasi perkembangan remaja menjadi amat penting. Dalam hal ini, peranan orang tua, sekolah, serta  masyarakat sangat diharapkan.


Hakekat Belajar

September 5, 2008

HAKEKAT BELAJAR

Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. Nana Syaodih Sukmadinata (2005)  menyebutkan bahwa sebagian terbesar perkembangan individu berlangsung melalui kegiatan belajar.  Lantas, apa sesungguhnya belajar itu ?

Di bawah ini disampaikan tentang pengertian belajar dari para ahli :

  • Moh. Surya (1997) :  “belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya”.
  • Witherington (1952) : “belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan”.
  • Crow & Crow dan (1958) : “ belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap baru”.
  • Hilgard (1962) : “belajar adalah proses dimana suatu perilaku muncul perilaku muncul atau berubah karena adanya respons terhadap sesuatu situasi”
  • Di Vesta dan Thompson (1970) : “ belajar adalah perubahan perilaku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman”.
  • Gage & Berliner : “belajar adalah suatu proses perubahan perilaku  yang yang muncul karena pengalaman”

Dari beberapa pengertian belajar tersebut  diatas, kata kunci dari belajar adalah perubahan perilaku. Dalam hal ini, Moh Surya (1997) mengemukakan ciri-ciri dari perubahan perilaku, yaitu :

1 Perubahan yang disadari dan disengaja (intensional).

Perubahan perilaku yang  terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja dari individu yang bersangkutan.  Begitu juga dengan hasil-hasilnya, individu yang bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan, misalnya pengetahuannya semakin bertambah atau keterampilannya semakin meningkat, dibandingkan sebelum dia mengikuti suatu proses belajar. Misalnya, seorang mahasiswa sedang belajar tentang psikologi pendidikan. Dia menyadari bahwa dia sedang berusaha mempelajari tentang Psikologi Pendidikan. Begitu juga, setelah belajar Psikologi Pendidikan dia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan perilaku, dengan memperoleh sejumlah  pengetahuan, sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan Psikologi Pendidikan.

2 Perubahan yang berkesinambungan (kontinyu).

Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya merupakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelumnya. Begitu juga, pengetahuan, sikap dan keterampilan yang telah diperoleh itu, akan menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan, sikap dan keterampilan berikutnya. Misalnya, seorang mahasiswa telah belajar Psikologi Pendidikan tentang “Hakekat Belajar”. Ketika dia mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”, maka pengetahuan, sikap dan keterampilannya tentang “Hakekat Belajar” akan dilanjutkan dan dapat dimanfaatkan dalam mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”.

3 Perubahan yang fungsional.

Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup individu yang bersangkutan, baik untuk kepentingan masa sekarang maupun masa mendatang. Contoh : seorang mahasiswa belajar tentang psikologi pendidikan, maka pengetahuan dan keterampilannya dalam psikologi pendidikan dapat dimanfaatkan untuk mempelajari dan mengembangkan perilaku dirinya sendiri  maupun mempelajari dan mengembangkan perilaku para peserta didiknya kelak ketika dia menjadi guru.

4 Perubahan yang bersifat positif.

Perubahan perilaku yang terjadi bersifat normatif dan menujukkan ke arah kemajuan. Misalnya, seorang mahasiswa sebelum belajar tentang Psikologi Pendidikan menganggap bahwa dalam dalam Prose Belajar Mengajar tidak perlu mempertimbangkan perbedaan-perbedaan individual atau perkembangan perilaku dan pribadi peserta didiknya, namun setelah mengikuti pembelajaran Psikologi Pendidikan, dia  memahami dan berkeinginan untuk menerapkan prinsip – prinsip perbedaan individual maupun prinsip-prinsip perkembangan individu jika dia kelak menjadi guru.

5 Perubahan yang bersifat aktif.

Untuk memperoleh perilaku baru, individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan. Misalnya,  mahasiswa ingin memperoleh pengetahuan baru tentang psikologi pendidikan, maka mahasiswa tersebut aktif melakukan kegiatan membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan, berdiskusi dengan teman tentang psikologi pendidikan dan sebagainya.

6 Perubahan yang bersifat pemanen.

Perubahan perilaku yang diperoleh dari proses belajar cenderung menetap dan menjadi bagian yang melekat dalam dirinya. Misalnya, mahasiswa belajar mengoperasikan komputer, maka penguasaan keterampilan mengoperasikan komputer tersebut akan menetap dan melekat dalam diri mahasiswa tersebut.

7 Perubahan yang bertujuan dan terarah.

Individu melakukan kegiatan belajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai, baik tujuan jangka pendek, jangka menengah  maupun jangka panjang. Misalnya, seorang mahasiswa belajar psikologi pendidikan, tujuan yang ingin dicapai dalam panjang  pendek mungkin dia ingin memperoleh pengetahuan, sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan yang diwujudkan dalam bentuk kelulusan dengan memperoleh nilai A. Sedangkan tujuan jangka panjangnya dia ingin menjadi guru yang efektif dengan memiliki kompetensi yang memadai tentang  Psikologi Pendidikan. Berbagai aktivitas dilakukan dan diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.

8 Perubahan perilaku secara keseluruhan.

Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan semata, tetapi termasuk memperoleh pula perubahan dalam sikap dan  keterampilannya. Misalnya, mahasiswa belajar tentang “Teori-Teori Belajar”, disamping memperoleh informasi atau pengetahuan tentang “Teori-Teori Belajar”, dia juga  memperoleh sikap tentang pentingnya seorang guru menguasai “Teori-Teori Belajar”. Begitu juga, dia memperoleh keterampilan dalam  menerapkan  “Teori-Teori Belajar”.

Menurut Gagne (Abin Syamsuddin Makmun, 2003), perubahan perilaku yang merupakan hasil belajar dapat berbentuk :

  1. Informasi verbal; yaitu penguasaan informasi dalam bentuk verbal, baik secara tertulis maupun tulisan, misalnya pemberian nama-nama terhadap suatu benda, definisi, dan sebagainya.
  2. Kecakapan intelektual; yaitu keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol, misalnya: penggunaan simbol matematika. Termasuk dalam keterampilan intelektual adalah kecakapan dalam membedakan (discrimination), memahami konsep konkrit, konsep abstrak, aturan dan hukum. Ketrampilan ini sangat dibutuhkan dalam menghadapi pemecahan masalah.
  3. Strategi kognitif;  kecakapan individu untuk melakukan pengendalian dan pengelolaan keseluruhan aktivitasnya. Dalam konteks proses pembelajaran, strategi kognitif yaitu kemampuan mengendalikan ingatan dan cara – cara berfikir  agar terjadi aktivitas yang efektif. Kecakapan  intelektual menitikberatkan pada hasil pembelajaran, sedangkan strategi kognitif lebih menekankan pada pada proses pemikiran.
  4. Sikap; yaitu hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk memilih macam tindakan yang akan dilakukan. Dengan kata lain. Sikap adalah keadaan dalam diri individu yang akan memberikan kecenderungan vertindak dalam menghadapi suatu obyek atau peristiwa, didalamnya terdapat unsur pemikiran, perasaan yang menyertai pemikiran dan kesiapan untuk bertindak.
  5. Kecakapan motorik; ialah hasil belajar yang berupa kecakapan pergerakan yang dikontrol oleh otot dan fisik.

Sementara itu, Moh. Surya (1997) mengemukakan bahwa hasil belajar akan tampak dalam :

  1. Kebiasaan; seperti : peserta didik belajar bahasa berkali-kali menghindari kecenderungan penggunaan kata atau struktur yang keliru, sehingga akhirnya ia terbiasa dengan penggunaan bahasa secara baik dan benar.
  2. Keterampilan; seperti : menulis dan berolah raga yang meskipun sifatnya motorik, keterampilan-keterampilan itu memerlukan koordinasi gerak yang teliti dan kesadaran yang tinggi.
  3. Pengamatan; yakni proses menerima, menafsirkan, dan memberi arti rangsangan yang masuk melalui indera-indera secara obyektif sehingga peserta didik mampu mencapai pengertian yang benar.
  4. Berfikir asosiatif; yakni berfikir dengan cara mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya dengan menggunakan daya ingat.
  5. Berfikir rasional dan kritis yakni menggunakan prinsip-prinsip dan dasar-dasar pengertian dalam menjawab pertanyaan kritis seperti “bagaimana” (how) dan “mengapa” (why).
  6. Sikap yakni kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu sesuai dengan pengetahuan dan keyakinan.
  7. Inhibisi (menghindari hal yang mubazir).
  8. Apresiasi (menghargai karya-karya bermutu.
  9. Perilaku afektif yakni perilaku yang bersangkutan dengan perasaan takut, marah, sedih, gembira, kecewa, senang, benci, was-was  dan sebagainya.

Sedangkan menurut Bloom, perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil belajar meliputi perubahan dalam kawasan (domain) kognitif, afektif dan psikomotor, beserta tingkatan aspek-aspeknya.


Tradisi yang perlu dilestarikan

Mei 4, 2008

Solok Selatan kabupaten baru di selatan Sumatera Barat sangat kaya dengan potensi Alam sera budaya yang dapat diangkat sebagai asset pariwisata. Pada 7kecamatan yang ada masing – masing kecamatan memiliki ciri khas tradisi dan budaya serta alam yang dapat dikembangkan lagi.

misalnya di Kecamatan baru Pauh Duo, memiliki sumber air panas alam yang telah mulai ditata kembali. memiliki sumber air bersih juga yang sangat mungkin sebagai sumber air kemasan. tradisi dimasyarakat masih sangat kental dengan nuansa  Islami.

Salah satu tradisi di Pauh Duo yaitu acara memperingati hari Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, masing-masing TPA, Surau dan tempat-tempat belajar mengaji anak-anak melaksanakan acara “Ma arak bungo Lamang”

Maarak bungo lamang adalah tradisi menghias Lamang (makanan dari ketan yang ditaruh dalam bambu). lamang tersebut diberi pernik-pernik dan jumbai-jumbai yang diujungnya di lemkan uang kertas  seribuan, lima ribuan dst, tergantung berapa niat untuk memberinya.

lamang yang sudah dihias dan diberi uang tadi diarak anak-anak surau itu  sepanjang jalan yang diiringi musik tradisionil bernuansakan Islami ketempat tujuan acara (biasanya Mesjid)

sampai semua peserta dari berbagai kelompok anak ngaji itu diMesjid tujuan, panitia memunguti uang yang ada dimasing-masing Lamang yang diarak tadi. jumlah uang sangat tergantung pada jumlah peserta yang membawa bungo Lamang dan besarnya uang pecahan yang di pasang di ujung Bungo lamang

Di Mesjid semua berkumpul untuk mendengarkan ceramah agama, selanjutnya Lamang tadi di sajikan untuk dimakan bersama.


KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR

Mei 4, 2008

KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR
Keterampilan Bertanya

Guru perlu menguasai keterampilan bertanya karena:

1. guru cenderung mendominasi kelas dengan ceramah,

2. siswa belum terbiasa mengajukan pertanyaan,

3. siswa harus dilibatkan secara mental-intelektual secara maksimal, dan

4. adanya anggapan bahwa pertanyaan hanya berfungsi untuk menguji pemahaman siswa.

Pertanyaan yang baik mempunyai berbagai fungsi antara lain:

1. mendorong siswa untuk berpikir,

   2. meningkatkan keterlibatan siswa,

3. merangsang siswa untuk mengajukan pertanyaan,

4. mendiagnosis kelemahan siswa,

5. memusatkan perhatian siswa pada satu masalah, dan

6. membantu siswa mengungkapkan pendapat dengan bahasa yang baik.

Keterampilan bertanya dasar terdiri atas komponen-komponen:

1. pengajuan pertanyaan secara jelas dan singkat,

2. pemberian acuan,

3. pemusatan,

4. pemindahan giliran,

5. penyebaran,

6. pemberian waktu berpikir, dan

7. pemberian tuntunan.

Keterampilan bertanya lanjut terdiri dari komponen:

1. pengubahan tuntutan kognitif dalam menjawab pertanyaan,

2. pengaturan urutan pertanyaan,

3. penggunaan pertanyaan pelacak, dan

4. peningkatan terjadinya interaksi.

Keterampilan bertanya lanjut terdiri dari komponen:

1. pengubahan tuntutan kognitif dalam menjawab pertanyaan,

2. pengaturan urutan pertanyaan,

3. penggunaan pertanyaan pelacak, dan

4. penigkatan terjadinya interaksi.

Dalam menerapkan keterampilan bertanya dasar dan lanjut, guru perlu memperhatikan prinsip-prinsip berikut:

1. Kehangatan dan keantusiasan.

2. Menghindari kebiasaan mengulang pertanyaan sendiri, menjawab pertanyaan sendiri, mengajukan pertanyaan yang mengundang jawaban serempak, mengulangi jawaban siswa, mengajukan pertanyaan ganda, dan menunjuk siswa sebelum mengajukan pertanyaan

3. Waktu berpikir yang diberikan untuk pertanyaan tingkat lanjut lebih banyak dari yang diberikan untuk pertanyaan tingkat dasar.

4. Susun pertanyaan pokok dan nilai pertanyaan tersebut sesudah selesai mengajar.


Keterampilan Memberi Penguatan

Penguatan adalah respon yang diberikan oleh guru terhadap perilaku siswa yang baik, yang menyebabkan siswa tersebut terdorong untuk mengulangi atau meningkatkan perilaku yang baik tersebut.

Penguatan diberikan dengan tujuan meningkatkan motivasi siswa dalam belajar, mengontrol dan memotivasi perilaku yang negatif, menumbuhkan rasa percaya diri, serta memelihara iklim kelas yang kondusif.

Penguatan dapat dibagi menjadi penguatan verbal dan non-verbal. Penguatan verbal diberikan dalam bentuk kata-kata/kalimat pujian, sentuhan, kegiatan yang menyenangkan, serta benda atau simbol. Penguatan dapat juga diberikan dalam bentuk penguatan tak penuh, jika respon/perilaku siswa tidak sepenuhnya memenuhi harapan.

Dalam memberikan penguatan harus diperhatikan prinsip-prinsip berikut.

1. Kehangatan dan keantusiasan

2. Kebermaknaan

3. Hindari respon negatif

4. Penguatan harus bervariasi

5. Sasaran penguatan harus jelas

6. Penguatan harus diberikan segera setelah perilaku yang diharapkan muncul.

Keterampilan Mengadakan Variasi

Variasi adalah keanekaan yang membuat sesuatu tidak monoton. Variasi di dalam kegiatan pembelajaran dapat menghilangkan kebosanan, meningkatkan minat dan keingintahuan siswa, melayani gaya belajar siswa yang beragam, serta meningkatkan kadar keaktifan siswa.

Komponen keterampilan mengadakan variasi dibagi menjadi 3 kelompok sebagai berikut.

1. Variasi dalam gaya mengajar yang meliputi variasi suara, pemusatan perhatian, kesenyapan, pergantian posisi guru, kontak pandang serta gerakan badan dan mimik.

2. Variasi pola interaksi dan kegiatan.

3. Variasi penggunaan alat bantu pengajaran yang meliputi alat/bahan yang dapat didengar, dilihat, dan dimanipulasi.

Dalam mengadakan variasi, guru perlu mengingat prinsip-prinsip penggunaannya yang meliputi: kesesuaian, kewajaran, kelancaran dan kesinambungan, serta perencanaan bagi alat/bahan yang memerlukan penataan khsusus.

Keterampilan Menjelaskan

Keterampilan menjelaskan sangat penting bagi guru karena sebagian besar percakapan guru yang mempunyai pengaruh terhadap pemahaman siswa adalah berupa penjelasan. Penguasaan keterampilan menjelaskan yang didemonstrasikan guru akan memungkinkan siswa memiliki pemahaman yang mantap tentang masalah yang dijelaskan, serta meningkatnya keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran.

Komponen keterampilan menjelaskan dibagi menjadi 2 kelompok yaitu:

1. Merencanakan materi penjelasan yang mencakup:

1. menganalisis masalah,

2. menentukan hubungan, serta

3. menggunakan hukum, rumus, dan generalisasi yang sesuai.

2. Menyajikan penjelasan, yang mencakup:

1. kejelasan, yaitu keterampilan yang erat kaitannya dengan penggunaan bahasa lisan,

2. penggunaan contoh dan ilustrasi, yang bisa dilakukan dengan pola induktif atau deduktif,

3. pemberian tekanan yang dapat dilakukan dengan berbagai variasi gaya mengajar, dan membuat struktur sajian, dan

4. balikan, yang bertujuan untuk mendapat informasi tentang tingkat pemahaman siswa, baik melalui pertanyaan mapun melalui tugas.

Penjelasan dapat diberikan pada awal, tengah, dan akhir pelajaran, dengan selalu memperhatikan karakteristik siswa yang diberi penjelasan serta materi/ masalah yang dijelaskan.

Sumber : Strategi Belajar Mengajar karya Udin S. Winataputra

 


Pendidikan di Kampungku

Mei 4, 2008

kualitas Pendidikan Solok Selatan

Solok Selatan merupakan Kabupaten yang dikategorikan kualitas pendidikan rendah di propinsi Sumatera Barat dari hasil uji coba Ujian Nasional BSNP baru-baru ini. Dengan hasil tingkat kelulusan di jenjang SMA 0% dan SMK dari 4 SMK di daerah ini yang lulus cuma 5 orang dari SMKN 1 Solok Selatan saja. Menyedihkan bukan? Sehingga menjadi suatu trauma besar dikalangan stackholder ditingkat Kabupaten.

Sebenarnya apa yang terjadi dengan pendidikan didaerah kita ? apakah pendidikan dari masa ke masa tidak tumbuh dan berkembang layaknya bagai suatu tanaman????? Seharusnya begitu, pendidikan tumbuh, berkembang, bercabang, berbunga mekar dan berbuah anak bangsa yang berkualitas, beriman dan bertaqwa.

Kualitas pendidikan bukanlah bertumpu kepada kapasitas dan kemampuan guru – guru saja, seperti yang sering kita dengar. Proses pendidikan yang melahirkan anak bangsa merupakan juga suatu proses produksi pada barang dan jasa. Kualitas produk bukan ditentukan oleh tenaga kerja (buruh) saja, tetapi meliputi bahan baku, bahan penolong, system, mekanisme, kebijakan dan lainnya.

Menurut pandangan kami pendidikan di Solok Selatan dipengaruhi oleh beberapa factor yang sangat dominan :

1. Faktor kemampuan personal guru yang relative rendah

Rendahnya kemampuan pelayanan guru bukan disebabkan saja oleh LPTK penyelenggara pendidikan guru saja, guru kurang memperoleh kesempatan meningkatkan kemampuan dan pengetahuannya tanpa adanya pelatihan, pengarahan dari lembaga penyelenggara pendidikan dan pengambil keputusan di tingkat Kabupaten. Pengayoman yang maksimal bagi guru-guru baru kurang dilaksanakan terutama di guru SD yang direkrut masih banyak dari tenaga honorer dan belum memiliki keterampilan dasar mengajar. Sehingga hirarki / penerapan konsep-konsep pembelajaran yang seharusnya di pendidikan usia dini ini dilaksankan tidak tepat. Ini akan berlanjut ketingkat SLTP dan SLTA.

 

2. Pemahaman paradigma pendidikan belum dipahami oleh para kepala sekolah.

Bahwa pelayanan pendidikan itu sangat komplek, pengajaran sangat variatif belum dipahami dan disosialisasikan. Kita masih berpola budaya lama saja. Asal masuk, siswa dan mencatat. Belum kontinyue nya pelaksanaan supervisi kelas kepada guru, kebutuhan pelaksanaan PBM kurang terpenuhi. Pembangunan banyak diarahkan kepada fisik sekolah seperti gerbang yang megah, pagar yang cantik kantor kepala sekolah yang mewah?!

3. Para stackholder ditingkat kabupaten masih kurang optimal, SOTK yang gonta ganti, baru pada tahap perencanaan sesorang pada jabatan startegis pendidikan besok nya diganti lagi dengan orang lain. Sehingga tidak terjadinya suatu proses yang berkelanjutan. Dan tidak bias pula terukur sejauh mana kebijakan yang telah diambil itu punya dampak terhadap perobahan pola pendidikan itu sendiri.

PP  Proses pembangunan fisik, sarana dan prasarana yang melibatkan unsur kependidikan.

Dalam pelaksanaan pembangunan fisik, sarana prasarana melibatkan unsure kependidikan sehingga perhatian mereka sebagian besar tertumpu kepada kegiatan tersebut, sepertinya pelayanan kependidikan sedikit terabaikan.

   Kurangnya jalinan lintas sektoral lini pendidikan (pemda ) dengan lembaga pelaksana Diklat.

Kurang terjalinnya kerja sama dengan lembaga Diklat seperti PPPPTK, yang ada di Medan, Bandung, Jakarta, Yokyakarta Malang dll. Sehingga sangat langka guru dari Solok Selatan yang dipanggil penataran.

      Intervensi pihak lain terhadap pelaksanaan pendidikan, seperti pengadaan bahan ajar, mutasi guru rekrutmen kepala sekolah, pengawas, UPTD. Laksanakanlah secara sangat objektif sehingga kepercayaan guru maupun siswa lebih baik